Jumat, 13 Agustus 2010

DPR

POLEMIK RUMAH ASPIRASI DPR


Saat ini, teramati di media2 massa, ada kecenderungan penolakan terhadap Rumah Aspirasi DPR. Argumentasinya antara lain adalah krn persoalan anggaran. Dikhawatirkan bahwa anggaran Rumah Aspirasi hanya akan menambah beban APBN. Sudah tentu, argumen itu sah-sah saja. Tetapi Rumah Aspirasi merupakan inisiatif paling logis dan rasional di tengah ketidak-jelasan pola relasi lembaga perwakilan dengan konstituennya. Pemahaman tentang Rumah Aspirasi saat ini sudah terlalu jauh dan sangat teknis. Konsep Rumah Asprasi seharusnya dipahami sebagai sebuah mekanisme pengelolaan aspirasi masyarakat utk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Bukan dipahami sebagai sebuah bangunan fisik dg perangkatnya semata.

Mekanisme yang seharusnya bejalan dalam Rumah Aspirasi adalah untuk menjamin bahwa Rumah Aspirasi dapat menyerap, mengidentifikasi, mendistribusikan tindaklanjut asirasi kepada pihak-pihak terkait dan mengartikulasikan aspirasi dalam kebijakan-kebijakan dalam proses legislasi, pengawasan dan penganggaran oleh DPR.


Bahwa untuk merealisasikan Rumah Aspirasi masih ada persoalan anggaran yg belum jelas, itulah yg perlu dicarikan solusinya secara bijak. Dan, sesungguhnya menurut hitungan FORMAPPI, anggaran yang perlu ditambahkan untuk Rumah Aspirasi jumlahnya tidaklah terlalu besar. Dan tidak perlu menambah beban APBN, karena bisa diambil Dana Pengembangan Kelembagaan Dewan. Tinggalah tergantung kepada para Anggota Dewan, apakah dia mau memanfaatkan Dana Penyerapan Aspirasi dan Dana Komunikasi Intensif itu bagi pengelolaan Rumah Aspirasi yang merupakan ujung tombak setiap anggota Dewan dalam menyerap aspirasi dan memperjuangkan kepentingan konstituennya